Jurdical Analysis of China’s Nine-Dash Line Claim to Indonesia’s Sovereign Rights in the North Natuna Sea Based on International Law of the Sea
DOI:
https://doi.org/10.38035/sijal.v4i2.430Keywords:
Nine-Dash Line, UNCLOS 1982, Sovereign Rights, Exclusive Economic Zone, North Natuna SeaAbstract
This research is motivated by China's "Nine-Dash Line" claim, which raises legal issues regarding Indonesia's sovereign rights in the North Natuna Sea and tests the effectiveness of international law of the sea. The study aims to analyze the legal basis and legitimacy of the Nine-Dash Line claim under the 1982 UNCLOS, as well as Indonesia's legal position in upholding its sovereign rights. A normative-juridical research method is employed, utilizing statutory, conceptual, and case-based approaches through the study of primary, secondary, and tertiary legal materials. The findings indicate that the Nine-Dash Line claim lacks a legal basis capable of overriding the 1982 UNCLOS regime, particularly the provisions concerning the Exclusive Economic Zone. The 2016 South China Sea arbitration ruling reinforces the rejection of claims to historic rights that exceed maritime entitlements under UNCLOS. Indonesia holds a strong legal position to defend its sovereign rights through law enforcement, diplomacy, and regional international cooperation.
References
Adolf, H. (2015). Aspek-aspek negara dalam hukum internasional. Rajawali Pers.
Adolf, H. (2021). Pengantar ilmu hukum (Edisi revisi). Prenada Media.
Aji Scoornova, P. A., et al. (2024). Illegal fishing in the Natuna Sea: How UNCLOS 1982 shapes law enforcement between Vietnam and Indonesia. Indonesian Journal of Environmental Law and Sustainable Development, 3(2).
Ali, A. (2021). Menguak teori hukum (Legal theory) dan teori peradilan (Judicialprudence) (Cet. ke-15). Kencana.
Amsir, A. A. (2021). Perjanjian Westphalia dan momentum pendirian negara modern. Sulesana, 15(1).
Anadolu Agency. (2020). Indonesia tegaskan wilayah ZEE sah sesuai UNCLOS 1982. https://www.aa.com.tr/id/nasional/indonesia-tegaskan-wilayah-zee-sah-sesuai-unclos- 1982/1976818
Andi, E. T., et al. (2024). Konflik terhadap klaim China atas wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia di Laut Natuna Utara. Supremasi: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Hukum, & Pengajarannya, 19(1).
B, N. A. S., et al. (n.d.). Respon Indonesia menghadapi ancaman China di Laut Natuna Utara di masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Jurnal Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, 10(1).
Efendi, A. (2019). Teori hukum. Sinar Grafika.
Efendi, J., & Ibrahim, J. (2018). Metodologi penelitian hukum normatif dan empiris. Prenadamedia Group.
Farhan, M. (2025). Implementasi United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) dalam pengaturan lalu lintas kapal asing di wilayah perairan Indonesia. Unes Law Review, 8(1).
Fuady, M. (2022). Teori-teori besar (Grand theory) dalam hukum (Cet. ke-3). Kencana.
Hizkia, J., et al. (2024). Kajian hukum sengketa Laut China Selatan bagi Indonesia pasca keputusan arbitrase internasional tahun 2016 menurut hukum internasional. Lex Privatum, 13(3).
Iba, Z., & Wardhana, A. (2023). Metode penelitian. Eureka Media Aksara.
Ibrahim, J. (2022). Teori & metodologi penelitian hukum normatif. Bayumedia Publishing. InfoPublik. (2026). Bakamla RI berhasil usir kapal Coast Guard China di Laut Natuna Utara. https://infopublik.id/kategori/nasional-politik hukum/879761/bakamla-ri-berhasil-usirkapal-coast-guard-china-di-laut-natuna-utara
Irsyad, M. G., et al. (2023). Criticize the legality of the People's Republic of China claims the nine dash line under international law. The Indonesian Journal of International Clinical Legal Education, 5(3).
Irwandhana, T. S. (2025). Tinjauan hukum internasional: Ketidakpatuhan Tiongkok terhadap putusan PCA dan implikasinya bagi resolusi sengketa Laut China Selatan. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(1).
Juwana, H. (2023). Hukum internasional dalam perspektif Indonesia (Cet. ke-4). Rajawali Pers.
Kansil, C. S. T., & Kansil, C. S. T. (2022). Pengantar ilmu hukum Indonesia (Cet. ke-6). Rineka Cipta.
Kapang, N. R. (2024). Penetapan batas wilayah laut Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)
antarnegara dalam perspektif hukum internasional. Lex Privatum, 13(3).
Karim Al Ismariy, M. N., et al. (2026). Ketegangan kedaulatan dan kepatuhan internasional dalam sengketa Laut Natuna Utara perspektif hukum internasional (UNCLOS 1982). AlZayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 4(2). Kusumaatmadja, M., & Agoes, E. R. (2021). Pengantar hukum internasional (Cet. ke-6). Alumni.
Maritim News. (2016). Beda kedaulatan dan hak berdaulat di laut menurut UNCLOS 1982. https://maritimnews.com/2016/04/beda-kedaulatan-dan-hak-berdaulat-di-laut-menurutunclos-1982
Marzuki, P. M. (2021). Penelitian hukum. Kencana.
Mauna, B. (2015). Hukum internasional: Pengertian, peranan dan fungsi dalam era dinamika global (Ed. ke-2, Cet. ke-6). Alumni.
Meilana, O. (2025). Kedaulatan negara vs kebebasan navigasi laut: Studi konflik Laut China Selatan dalam perspektif UNCLOS. Iuridica et Societas, 1(1).
Milthree Law. (2024). Perang buku: Hugo Grotius dan John Selden dalam perdebatan hukum laut. https://www.milthreelaw.id/2024/12/perang-buku-hugo-grotius-dan-john.html
Muhaimin. (2020). Metode penelitian hukum. Mataram University Press.
Muniz-Fraticelli, V. M. (2010). Jean Bodin. In M. Bevir (Ed.), Encyclopedia of political theory. Sage Publications.
Nurhakim, H. A. (2024). The evolution of state sovereignty in international law: The theoretical and practical analysis. International Studies: Journal of Political Studies and International Relations, 1(1).
Palupi, D. A. (2022). Hukum laut internasional. LPPM Universitas Bung Hatta.
Parthiana, I. W. (2022). Hukum perjanjian internasional. Mandar Maju.
Pradanaa, W. A. R. D., et al. (2026). Status hukum pulau-pulau buatan di laut lepas berdasarkan UNCLOS 1982 dan dampaknya terhadap penentuan garis pangkal. Jurnal Kajian Hukum dan Pendidikan Kewarganegaraan, 2(3).
Pramesthy, A. H. K., et al. (2024). Mendukung keberlanjutan: Peran hukum internasional dalam mempertahankan ekosistem laut Indonesia. Interdisciplinary Journal on Law, Social Sciences and Humanities, 5(1).
Pratomo, E. (2022). Hukum laut internasional (Cet. ke-2). RajaGrafindo Persada.
Purwaka, T. H., et al. (2016). Konvensi Hukum Laut PBB 1982 dan hukum laut Indonesia. 2(2).
Ramlan. (2023). Metode penelitian hukum dalam pembuatan karya ilmiah. UMSU Press.
Rene, J. (n.d.). Peningkatan ketegangan geopolitik di Laut China Selatan. Jurnal Lemhanas RI, 11(4).
Ria, T. V. (2019). Konstruksi archipelagic state principle dalam pembangunan hukum laut internasional. Jurnal Ilmu Hukum, 4(2).
Rizki Dian Pradanaa, W. A., et al. (2026). Status hukum pulau-pulau buatan di laut lepas berdasarkan UNCLOS 1982 dan dampaknya terhadap penentuan garis pangkal. Jurnal Kajian Hukum dan Pendidikan Kewarganegaraan, 2(3).
Sefriani. (2019). Hukum internasional: Suatu pengantar. Rajawali Pers.
Sefriani. (2022). Hukum internasional: Suatu pengantar (Cet. ke-8). RajaGrafindo Persada.
Septaria, E., et al. (2026). Peran UNCLOS 1982 di dalam penegakan hukum laut di daerah perairan negara Indonesia. Jurnal Hukum Progresif, 9(5).
Sholeh, A. R. (2005). Pendidikan agama dan pengembangan untuk bangsa. RajaGrafindo Persada.
Silalahi, D. G. R. (2023). Analisis perkembangan batas laut Indonesia di wilayah perairan Indonesia menurut hukum laut Indonesia maupun hukum laut internasional. Jurnal Hukum Indonesia, 2(2).
Simanjuntak, M. (2024). Penyelesaian sengketa batas laut antara Indonesia dengan negaranegara tetangga ditinjau dari Konvensi PBB Tahun 1982 tentang Hukum Laut (UNCLOS 1982) 34(2).
South China Sea Arbitration (The Republic of the Philippines v. The People's Republic of China), PCA Case No. 2013-19, Award (July 12, 2016).
Tarumingkeng, R. C. (2024). Grand theory, middle theory dan operational theory dalam penelitian. RUDYCT e-PRESS.
Thontowi, J. (2020). Hukum internasional kontemporer. UII Press.
Tulak Andi, E., et al. (2024). Konflik terhadap klaim China atas wilayah Zona Ekonomi
Eksklusif Indonesia di Laut Natuna Utara. Supremasi: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Hukum, & Pengajarannya, 19(1).
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, sebagaimana telah diubah.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2025 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2014 tentang Kelautan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.
United Nations Convention on the Law of the Sea, December 10, 1982, 1833 U.N.T.S. 3. Wahyudi. (2008). Pemikiran tentang kedaulatan (Souvereignty). Wahyudi's Blog. https://wahyudidjafar.id/2008/09/25/menelusuri-pemikiran-tentang-kedaulatansouvereignty
Wiliawati, Y., et al. (2022). Eksistensi UNCLOS 1982 dalam upaya penegakan hukum laut internasional di perairan negara pantai. Sultan Jurisprudance: Jurnal Riset Ilmu Hukum, 2(2).
Yan Lee, Z. (2018). The South China Sea arbitration: The decision and its implications on the sovereignty claims of China and the Philippines. IIUM Law Journal, 26(2).
Yuliantiningsih, A., et al. (2022). Hukum laut: Pengaturannya dalam hukum internasional dan hukum nasional Indonesia. UNSOED Press.
Yunita Syofyan. (2024). Country boundary agreement as an effort to resolve the South China Sea dispute. Ekasakti Journal of Law and Justice, 2(1).
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Hendra K, Sujono, Bambang Widarto

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Copyright :
Authors who publish their manuscripts in this journal agree to the following conditions:
- Copyright in each article belongs to the author.
- The author acknowledges that the Siber International Journal of Advanced Law (SIJAL) has the right to be the first to publish under a Creative Commons Attribution 4.0 International license (Attribution 4.0 International CC BY 4.0).
- Authors can submit articles separately, arrange the non-exclusive distribution of manuscripts that have been published in this journal to other versions (for example, sent to the author's institutional repository, publication in a book, etc.), by acknowledging that the manuscript has been published for the first time at SIJAL.





















